KPK Masih Cari Bukti Aliran Suap PLTU Riau-1 ke Golkar

Juru bicara KPK Febri Diansyah – MI/Rommy Pujianto.

Jakarta: Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) masih terus menelusuri aliran suap PLTU Riau-1 ke Partai Golkar. Saat ini, fakta-fakta ihwal aliran dana ke partai berlambang pohon beringin itu  belum menemui titik terang.

Juru Bicara KPK Febri Diansyah mengatakan, penyidik sudah mengonfirmasi ihwal aliran dana tersebut ke sejumlah pihak, termasuk orang-orang partai. Apalagi, dugaan aliran uang ke Golkar diungkap oleh Wakil Ketua Komisi VII DPR dari Fraksi Partai Golkar Eni Maulani Saragih yang dijadikan tersangka oleh KPK.

"Pengurus (Golkar) sudah dipanggil. Bahkan ada salah satu pengurus yang sudah kembalikan uang Rp700 juta yang mereka katakan uang itu diterima dari tersangka EMS (Eni Maulani Saragih)," kata Febri, saat dikonfirmasi, Jumat, 21 September 2019.

Febri menuturkan, uang Rp700 juta yang telah dikembalikan oleh pengurus Golkar masih belum sebanding dengan kesaksian Eni. Eni sebelumnya menyebut ada aliran dana Rp2 miliar dari suap PLTU Riau-1 ke Golkar untuk pemenangan Airlangga Hartarto sebagai ketua umum pada Munaslub 2017.

(Baca juga: Airlangga Enggan Berandai-andai soal Kasus PLTU Riau-1)

Oleh karena itu, lanjut Febri, penyidik masih terus melakukan penyelidikan dan pendalaman materi atas aliran dana yang diungkap Eni. Jika terbukti, KPK bisa saja menjeratnya dengan pasal korporasi.

"KPK tentu menelusuri lebih lanjut fakta-faktanya. Belum sampai situ (menjerat Golkar dengan pasal korporasi). Masih dalam pokok perkara saat ini," ucap Febri..

Dalam perkara ini, baru tiga tersangka yang ditetapkan oleh KPK. Mereka adalah mantan Wakil Ketua Komisi VII DPR Eni Maulani Saragih, pemegang saham Blackgold Natural Recourses Limited Johannes B Kotjo, dan mantan Menteri Sosial yang juga bekas Sekretaris Jenderal Golkar Idrus Marham.

Eni dan Idrus diduga menerima uang Rp6,25 miliar dari Kotjo secara bertahap. Eni mengaku sebagian dari Rp2 miliar yang diterima digunakan untuk Musyawarah Nasional Luar Biasa (Munaslub) Golkar pada Desember 2017.

Eni telah mengembalikan uang sejumlah Rp500 juta. Sementara itu, pengurus Golkar juga mengembalikan uang sejumlah Rp700 juta kepada Lembaga Antikorupsi. Uang tersebut menjadi alat bukti kasus dugaan suap di proyek senilai USD900 juta milik PT PLN.

Beberapa kader Golkar juga telah diperiksa sebagai saksi dalam kasus tersebut. Mereka adalah eks Ketua Umum Golkar Setya Novanto dan putranya, Rheza Herwindo, hingga Ketua Fraksi Golkar Melchias Marcus Mekeng. 

(Baca juga: Novanto: Eni Punya Bukti Ada Aliran Dana ke Munaslub Golkar)

Sumber: http://metrotvnews.com

Recommended For You

About the Author: Portal Berita

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *