Korban Gempa dan Tsunami Palu Menewaskan 1200 Orang Lebih

PortalKepri.com – BNPB (Badan Nasional Penanggulangan Bencana) hari ini melaporkan telah lebih dari 1200 korban tewas gempa dan tsunami Palu empat hari lalu ditemukan, sementara lebih dari 61.000 penduduk dievakuasi dari rumah-rumah mereka yang runtuh oleh gempa, hilang dilimbur tsunami, atau hilang ditelan likuifaksi.

Korban tewas tentu masih akan bertambah, sementara berbagai usaha bantuan dan pemulihan sedang dilakukan oleh berbagai pihak. Duka pilu untuk Palu, Donggala, Sigi dan sekitarnya…

Tiga bencana geologis sekaligus mengurung wilayah Palu dan sekitarnya: gempa yang kuat, tsunami yang tinggi, likuifaksi- pencairan tanah yang menenggelamkan apa pun yang ada di atasnya. Proses-proses geologis itu sesungguhnya hanya proses-proses menuju kesetimbangan, tetapi bisa menjadi bencana ketika manusia terlibat di dalam proses-proses itu.

Korban Gempa dan Tsunami Palu Menewaskan 1200 Orang Lebih
Korban Gempa dan Tsunami Palu Menewaskan 1200 Orang Lebih

Jumat petang 28 September pukul 18.02 WITA di kedalaman 11 km, 77 km di sebelah utara kota Palu, sebuah segmen batuan patah dan bergeser mendatar setelah tertekan sekian lama oleh gaya-gaya geologi. Patahan batuan ini dengan seketika menyebarkan energi gempa yang menggoncang dengan kuat-sangat kuat wilayah di sekitarnya, dan menggetarkan wilayah sampai jauh ke Kalimantan bagian timur.

BMKG (Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika) meghitung magnitudo gempa 7,7; sementara USGS (United States Geological Survey) menghitung magnitudo 7,5. Gempa kuat. Energi gempa ini dengan cepat memasuki jalur patahan besar di wilayah ini bernama Sesar Palu-Koro, lalu ia juga bergerak dengan sangat cepat memasuki kota Palu 77 km di sebelah selatan dari episentrum gempa.

Kota Donggala, Palu dan sekitarnya pun bergoncang kuat-sangat kuat. Bangunan-bangunan runtuh. Korban tewas tertimpa bangunan mulai ada. Lokasi episentrum gempa ada di tebing timur Teluk Palu, yang merupakan teluk sempit yang dibentuk pelan-pelan secara geologis oleh retakan Sesar Palu-Koro.

Gempa kuat ini nampaknya telah meruntuhkan sebagian tebing dan lereng pembentuk Teluk Palu di bawah laut. Runtuhan masif pun dengan seketika memasuki kolom laut. Tebing teluk ini memang rawan runtuh, terbukti sampai ia menjadi nama kampung di area ini yaitu Tanah Runtuh.

Material masif memasuki laut dengan seketika memindahkan massa air laut. Air laut yang dipindahkan dengan segera mengarah ke kota Palu. Tsunami, air laut berdiri, bergerak dengan cepat dan semakin tinggi berdiri mendekati kota Palu sebab teluk mendangkal dan luasnya menyempit.

Dan kota Palu terletak frontal di depan teluk ini, maka pantai Palu pun dilimbur tsunami dengan ketinggian sampai 7 meter dan masuk sejauh 2 km ke daratan. Petang menjelang malam itu tengah terjadi festival di pantai Palu, saat itu situasi kacau karena gempa besar menggoncang pantai. Namun kemudian mereka disapu atau ditelan tsunami yang dengan cepat menambah jumlah korban. Itu terjadi hanya sekitar 20 menit setelah gempa menggoncang Palu.

Lalu, Palu yang berdiri di atas tanah aluvium (endapan sungai) yang belum kuat terkonsolidasi dan dialiri Sungai Palu itu mengalami gejala likuifaksi di beberapa tempat. Goncangan gempa yang kuat tidak mudah terliberasi ke luar kota Palu karena tanah aluvium adalah penghantar yang buruk gelombang gempa, ini membuat tanah aluvium menjadi bulan-bulanan energi gempa.

Maka tanah aluvium pun runtuh ikatan kohesi antar butiran tanahnya, merenggang, tempatnya dengan segera diisi air yang dari semula menjadi bagian tanah aluvium. Tanah tiba-tiba mencair menjadi lumpur -itulah likuifaksi. Daya dukung tanah pun seketika hilang, tanah aluvium yang semula keras tempat bangunan berdiri menjadi lumpur.

Maka semua yang semula ada di atas tanah, bangunan, vegetasi, manusia, hewan, apa pun tenggelam seperti disedot saja sebab tak ada lagi alas kuat untuk berdiri. Korban tewas semakin bertambah.

Maka oleh bangunan runtuh karena gempa, tsunami yang dibangkitkan longsoran bawah laut karena gempa, dan likuifaksi karena gempa, lebih dari 1200 korban tewas terjadi di Palu, Donggala, Sigi dan sekitarnya.

Duka untuk Palu dan sekitarnya. Begitulah wilayah geologis Indonesia di beberapa tempatnya, rawan oleh bencana. Sulawesi adalah salah satu area paling aktif di dunia untuk proses-proses geologi. Di sini banyak jalur-jalur patahan/ sesar muda yang masih aktif karena proses geologi dan tektonik sedang berjalan.

Desakan pembukaan Laut Banda di sebelah tenggara ke arah baratlaut, dan dorongan lempeng samudera Filipina dan Pasifik di timur ke barat telah membuat sesar-sesar ini aktif. Sesar Palu-Koro bergerak 4 cm/tahun, ini artinya di sepanjang jalurnya sedang terjadi tekan-menekan segmen batuan di sebelah-menyebelah sesar itu.

Energi potensial gempa sedang terbangun di sekitar sesar ini, suatu waktu mereka akan patah dan energinya akan berubah menjadi energi gempa yang menyebar ke sekelilingnya.

Kota Palu secara kebencanaan geologis memang dalam posisi yang buruk. Ia duduk di atas jalur sesar Palu-Koro yang aktif bergerak. Ia duduk menghadap teluk yang sempit yang juga dibuka oleh sesar besar ini. Teluk sempit adalah area yang buruk untuk tsunami dari laut terbuka masuk dan menjadi tinggi seketika. Tanah aluvium di bawah kota pun bila energi gempa mengocoknya maka mereka akan runtuh kohesinya dan kehilangan daya dukungnya.

Jadi bagaimana dengan kota Palu ini? Kota Palu telah ada dan lama berkembang sebelum pengetahuan geologi modern seperti yang saya ceritakan ada. Mitigasi bencana atas ketiganya (gempa, tsunami, likuifaksi) sekarang harus dilakukan dengan lebih baik.

Peralatan pemantau proses-proses geologi harus lebih banyak disebar di area ini. Teknik membangun di area ini pun harus benar-benar diperhatikan atas kemungkinan kegempaan, tsunami, dan likuifaksi. Pengembangan kota harus memperhatikan luasan jalur Sesar Palu-Koro.

Kita dikejutkan atau disadarkan kembali bahwa membangun kota atau pembangunan di area geologi aktif perlu sangat hati-hati dan memperhatikan proses-proses geologis. Pilu Palu ini pun juga menyadarkan kita bahwa mitigasi dan pendidikan pemahaman kebencanaan geologis harus terus-menerus dilakukan.

Semoga Palu dan sekitarnya segera pulih. We are living and sleeping with earthquakes (Awang Satyana)

Recommended For You

About the Author: Redaksi PortalKepri

Tim Redaksi. Segala macam informasi yang telah diposting bersumber dari wartawan, editor maupun para penulis internal dan penulis lepas.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *