Belajar Sendiri Tanpa Guru (Autodidak)

PortalKepri.com – Autodidak, belajar sendiri, belajar tanpa guru, saya yakin adalah bagian terpenting dalam menunjang karier profesional seseorang, katakanlah kita. Kita lulus S1 misalnya saat berumur 25 tahun, di umur itu juga kita anggaplah mulai bekerja.

Lalu kita bekerja sesuai ilmu yang kita pelajari di kampus itu sampai berumur 60 tahun. Berarti umur karier kita 35 tahun. Pertanyaannya, apakah cukup ilmu yang kita peroleh 5 tahun di kampus untuk bekerja selama 35 tahun berikutnya? Jelas tidak.

Betul kita bisa saja melanjutkan sekolah ke jenjang S2 seperti banyak dilakukan saat ini, atau sebagian bahkan ada yang melanjutkan ke S3. Sebagian juga mengikuti kursus-kursus profesional pada saat bekerja. Hanya, tambahan masa sekolah S2 da S3, juga kursus-kursus profesional tetap saja tak akan mencukupi kebutuhan ilmiah untuk bisa bekerja dengan baik selama 35 tahun itu.

Belajar Sendiri Tanpa Guru (Autodidak)
Belajar Sendiri Tanpa Guru (Autodidak)

Kursus-kursus profesional biasanya juga hanya diberikan di awal-awal karier kita, tidak di sepanjang karier kita. Lalu bagaimana memenuhi kebutuhan ilmiah sepanjang karier itu? Autodidak, belajar sendiri ilmu-ilmu yang dibutuhkan untuk berkarier sepanjang yang kita bisa atau diperlukan.

Saya tidak asing dengan autodidak sebab paling tidak saya telah melakukannya hampir 20 tahun ini.

Setelah saya lulus kuliah dan menjadi geologist sekitar tujuh tahun, saya melihat teman-teman seangkatan saya mulai banyak yang melanjutkan sekolahnya melalui program-program S2 geologi atau geofisika yang ada sambil bekerja.

Saya saat itu sedang banyak pergi ke lapangan sebagai wellsite geologist, bisa banyak bolos kalau saya ikut melanjutkan sekolah. Saat itu juga kedua anak saya masih balita, masa sudah sering ditinggal ke lapangan saya tinggal juga pergi kuliah setiap hari Sahtu.

Jadi saya tak mengikuti teman-teman saya melanjutkan sekolah. Untuk menambah pengetahuan, saya bisa belajar sendiri di perpustakaan pribadi seperti biasa saya lakukan. Menambah gelar? Saya kan bukan bekerja sebagai dosen atau peneliti, rasanya S1 saja cukup buat saya bisa bekerja sehari-hari. Di kantor saya pun tak dituntut orang harus S2 saat itu.

Meskipun saya tidak melanjutkan sekolah, keinginan menambah pengetahuan dan ketrampilan besar sekali. Sejak itu mulailah saya melakukan autodidak secara sistematik. Saya minta silabus S2 dari teman yang kuliah, lalu saya mencari berbagai buku yang menunjang untuk itu, dan berusaha keras untuk disiplin belajar.

Perpustakaan Pribadi untuk Mengolah Berbagai Macam Ilmu
Perpustakaan Pribadi untuk Mengolah Berbagai Macam Ilmu

Akhirnya tanpa terasa hampir 20 tahun sampai sekarang saya belajar sendiri berbagai ilmu geologi untuk menambah pengetahuan dan membantu saya bekerja sehari-hari.

Saya tidak berhenti hanya di autodidak, tetapi saya juga menjajal kemampuan diri secara nyata dengan cara menunjukkan karya-karya yang nyata, dengan cara menulis publikasi, mengajar, dan membimbing mahasiswa S1-S3.

Dengan modal autodidak hampir 20 tahun itu saya sampai akhir tahun 2014 telah menulis 93 full paper yang dipresentasikan di berbagai pertemuan ilmiah, menulis 45 artikel dalam berbagai jurnal, majalah, buletin, surat kabar, menulis sekitar 400 artikel populer di berbagai milis, menulis 368 artikel populer di facebook, dan menulis 30 buku, buklet, buku lapangan tentang geologi dan kegiatan fieldtrip yang diedarkan di kalangan terbatas.

Bila semua tulisan itu saya cetak atau bukukan tebalnya akan sekitar 5000 halaman. Itulah jam terbang saya melakukan autodidak: 5000 halaman.

Dengan modal autodidak hampir 20 tahun itu juga saya sudah diundang 104 kali oleh berbagai seminar tempat saya diminta menjadi pembicara kunci atau narasumber, diundang memberikan 54 kali kuliah tamu di berbagai kampus, dan memberikan 42 kursus profesional ilmu-ilmu yang spesifik yang diselenggarakan berbagai organisasi profesi dengan total jumlah peserta kursus -kursus saya sekitar 750 orang.

Apakah tidak salah IPA, HAGI, IAGI meminta saya mengajar kursus-kursus profesional mereka, mengajarkan ilmu-ilmu spesifik yang umumnya pengajarnya bergelar doktor atau minimal master? Mungkin tidak, sebab saya sudah memberikan kursus – kursus itu selama 12 tahun sejumlah 42 kursus.

Kalau saya dipandang tak becus, pasti IPA, HAGI, IAGI dari awal pun tak akan meminta saya menjadi instrukturnya. Apakah tak salah panitia-panitia seminar dan kampus-kampus mengundang saya menjadi narasumber atau pengajar tamunya?

Nampaknya tidak, kalau saya dianggap tak becus pasti mereka tak akan mengundang saya. Kalau saya sudah menjadi narasumber di 104 seminar dan menjadi pengajar tamu di 54 kuliah tamu di berbagai kampus, nampaknya tak ada kesalahan mengundang saya.

Begitulah, saya tak pernah meragukan autodidak saya, tak masalah saat seminar atau sebagai pengajar biasanya hanya saya yang bergelar S1, sementara pembicara dan pengajar lain gelarnya panjang dan tinggi. Saya menghargai yang telah mengundang saya sebab berarti mereka menaruh kepercayaan kepada saya.

Itulah pengalaman saya soal autodidak. Autodidak harus dilandasi oleh cinta, ketekunan, konsistensi, dan keberanian. Dan harus dijalankan dengan: disiplin dan pantang menyerah. Keenam modal mental ini tak datang dari bawaan lahir, tetapi bawaan tekad dan latihan.

Latihlah sejak awal keenam modal mental ini. Autodidak juga berarti kesusahan, kelelahan, kejenuhan, dan kesepian. Belajar sendiri itu tanpa kampus, tanpa guru, tanpa kawan, tanpa gelar. Sepi. Belajar sendiri itu susah, jenuh tak jarang hadir, lelah pasti. Tetapi yang bisa melewati kesusahan dan kesepian, akan berhasil.

Bagaimana melakukan autodidak? Yang pertama miliki target yang terukur. Cari buku-buku untuk itu. Buku adalah pengganti dosen. Dan mulailah belajar dengan teratur dan disiplin. Saya biasanya menyusun jadwal pribadi, misalnya hari ini belajar ini, hari besok belajar itu.

Belajar apa saja, itu terserah apa yang kita mau pelajari. Kalau saya dulu suka meminta silabus/ daftar mata kuliah kawan-kawan yang bersekolah S2, mereka belajar di kampus di bawah bimbingan dosen, saya belajar sendiri dari berbagai buku.

Autodidak itu jelas lebih sulit daripada belajar di kampus sebab di kampus ada dosen yang mengajari kita, mereka bisa kita tanya juga, pemahaman akan lebih mudah didapat. Sementara dalam autodidak kesulitannya harus dikunyah sendiri. Tetapi percayalah ini: easy come easy go.

Segala yang mudah kita dapatkan akan mudah pula terlepas dari kita, dan sebaliknya pun berlaku – segala sesuatu yang sulit kita dapatkan akan sulit pula terlepas dari kita, dan inilah intisari autodidak.

Kuliah di kampus ada ujian, bagaimana dengan autodidak? Ada, yaitu berdiskusi dan berdebat dengan kawan-kawan yang bersekolah, jajal kemampuan kita. Di kampus ada tugas membuat paper, bagaimana dengan autodidak. Sama saja, dalam autodidak pun dari hasil belajar kita pasti ada inspirasi untuk menulis.

Tulislah, tidak ada bedanya. Di kampus ada tesis yang harus kita susun. Bagaimana dengan autodidak? Gampang saja, pilih tema yang menarik atas suatu hal berdasarkan buku-buku yang sedang kita pelajari, lalu lakukan riset-riset yang berkaitan, pelajari buku ini, pelajari buku itu.

Kumpulkan data, analisis. Seperti kita melakukan riset saja. Setelah analisis dan sintesis selesai dilakukan. Ringkaskan hasilnya dan kirim sebagai abstrak ke suatu pertemuan ilmiah. Bila diterima, tulislah makalah lengkapnya yang agak tebal. Dan saat makalah tersebut dipresentasikan, anggap itulah sidang autodidak kita.

Yang saya ceritakan di atas adalah kalau kita mau melakukan autodidak secara aktif, yaitu mengikuti seperti di kampus. Autodidak dengan cara hanya memelajari buku-buku pun boleh-boleh saja. Tetapi saya biasanya melakukan autodidak dengan cara aktif, sebab itu menantang kemampuan diri secara nyata.

Terlampir adalah beberapa foto bahan dan catatan autodidak saya selama 20 tahun ini: paper-paper, buku-buku teks, catatan-catatan, dan ruang belajar. Semuanya ada di rumah. Rumah bagi saya adalah juga berarti kampus saya seumur hidup, dan tempat bekerja saya yang paling nyaman. (Awang Satyana)

Recommended For You

About the Author: Redaksi PortalKepri

Tim Redaksi. Segala macam informasi yang telah diposting bersumber dari wartawan, editor maupun para penulis internal dan penulis lepas.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *